Mainan Anak Tanpa Logo SNI Akan Ditarik 

Penulis: Kharina Triananda/MUT
Sumber : beritasatu.com

Rabu, 27 November 2013 | 17:57

Jakarta – Diberlakukannya Standar Nasional Indonesia (SNI) pada produk mainan anak tentu akan membantu para orang tua selaku konsumen untuk memilih mainan yang aman untuk anak-anak mereka.
Walaupun, menurut Tulus Abadi (Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI)), konsumen produk mainan di Indonesia masih cenderung kurang peduli dengan petunjuk-petunjuk teknis yang ada di mainan tersebut.
“Misalnya sudah tertera mainan tersebut untuk 3 tahun ke atas, namun tetap diberikan ke anak dengan usia di bawah 3 tahun. Atau masih banyak juga yang tidak memperhatikan petunjuk teknis lain, seperti apakah mainan tersebut tercantum lambang CE (European Commission) atau lambang standar internasional lain,” ungkapnya pada jumpa pers dan peluncuran AIMI di Tangerang, Rabu (27/11).
Ia mengharapkan agar masyarakat dapat lebih peka dan hati-hati terhadap petunjuk teknis tersebut demi keamanan buah hati.  Alasan itu juga yang mendasari terbentuknya Asosiasi Importir dan Distributor Mainan Indonesia (AIMI). Asosiasi ini berkomitmen untuk mensosialisasikan pentingnya mengutamakan keamanan dalam memilih mainan anak.
“Kita merupakan jembatan antara pengusaha, pemerintah dan konsumen agar bisa terlaksananya aturan SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk produk mainan dengan efektif,” ujar Eko Wibowo, ketua AIMI.

klik disini : Contact us, untuk mengurus SNI 

Aturan SNI untuk semua produk mainan impor maupun dalam negeri sudah dijalankan pemerinta dari tahun ini dan diharapkan pada Mei 2014 semua produk mainan sudah memiliki sertifikat SNI. Bila yang belum memiliki, maka pemerintah akan menarik mainan tersebut dari peredaran.
“Tugas kita selain mengedukasi konsumen adalah juga untuk menyelaraskan antara pemerintah dan pengusaha agar pemberlakuan aturan ini bisa menguntungkan semua pihak,” lanjut Eko.
Saat ini AIMI memiliki 12 anggota, yakni PT. HERO Intiputra, PT. Mitra Sarana Purnama, PT. Mitra Adiperkasa, PT. Indopassion, PT. Toys Games Indonesia, PT. Agatha Promar, PT. ALJ Trading Indonesia, PT. Newboy Indonesia, PT. Emway Globalindo, PT. Kawan-Kawan Cemerlang, PT. Multitrend Indo dan PT. Dufia Indonesia.
Namun, Eko mengaku masih kesulitan mengajak produsen yang menjual produk untuk kelas menengah ke bawah. “Mereka masih menganggap bahwa bisnis adalah persaingan. Selain itu, selama mereka belum mengalami hal-hal yang merugikan atau mengancam bisnis mereka, biasanya mereka belum merasa perlu bergabung,” terang Eko.

Dikatakannya, harapan dari AMI ini adalah agar SNI bisa berjalan secara efektif di lapangan, sehingga bisa menyelamatkan anak-anak dari bahaya saat bermain.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *